Arsitektur Tradisional di IndonesiaArsitektur Tradisional di Indonesia merupakan negara dengan keindahan alam yang sangat luas terbentang dari Sabang hingga Merauke, keanekaragaman budaya dan pariwisata berpadu dengan keunikan khas masing-masing masyarakat lokalnya.

Salah satu contoh warisan budaya Indonesia adalah Arsitektur Tradisional. Keunikan dari Arsitektur Tradisional Indonesia karena Indonesia memiliki 33 provinsi.

Masing-masing suku bangsa Indonesia memiliki ciri khas tersendiri dari arsitektur vernakular tradisional Indonesia yang dikenal dengan rumah adat. Rumah adat atau Rumah Adat berada di pusat jaringan adat istiadat, hubungan sosial, hukum adat, tabu, mitos dan agama yang mengikat penduduk desa menjadi satu.

Baca Juga Artikel kami Lainnya di Identitas Desain Arsitektur Indonesia

Arsitektur Tradisional di Indonesia

Rumah menjadi fokus utama bagi keluarga dan masyarakatnya, serta menjadi titik tolak berbagai aktivitas penghuninya. Rumah tradisional Indonesia tidak dirancang oleh arsitek, tetapi penduduk desa membangun rumah mereka sendiri, atau komunitas akan mengumpulkan sumber daya mereka untuk struktur yang dibangun di bawah arahan seorang ahli bangunan dan / atau tukang kayu.

Dengan sedikit pengecualian, masyarakat kepulauan Indonesia memiliki keturunan Austronesia yang sama (berasal dari Taiwan, sekitar 6.000 tahun yang lalu), dan rumah tradisional Indonesia memiliki sejumlah karakteristik seperti konstruksi kayu, struktur atap yang bervariasi dan rumit.

Struktur Austronesia paling awal adalah rumah panjang komunal di atas panggung, dengan atap miring yang curam dan atap pelana yang berat, seperti yang terlihat di Rumah Adat Batak dan Toraja Tongkonan. Variasi prinsip rumah panjang komunal ditemukan di antara orang Dayak Kalimantan, serta orang Mentawai di Pulau Nias.

The Norm (Rumah Nias)

Normalnya adalah untuk sistem struktur tiang, balok, dan ambang pintu yang menahan beban langsung ke tanah dengan dinding kayu atau bambu yang tidak menahan beban. Secara tradisional, daripada menggunakan paku, sendi duri dan duri serta pasak kayu digunakan.

Bahan alami – kayu, bambu, ilalang dan serat – merupakan bahan rumah adat. Kayu keras umumnya digunakan untuk tiang pancang dan kombinasi kayu lunak dan keras digunakan untuk dinding atas rumah tanpa beban, dan sering dibuat dari kayu ringan atau ilalang. Bahan ilalang dapat berupa daun kelapa dan aren, alang alang dan jerami padi.

Desa Toraja

Hunian tradisional telah dikembangkan untuk merespon kondisi lingkungan alam, khususnya iklim monsun yang panas dan basah di Indonesia. Seperti umumnya di seluruh Asia Tenggara dan Pasifik Barat Daya, kebanyakan rumah adat dibangun di atas panggung, kecuali di Jawa dan Bali.

Membangun rumah di atas panggung memiliki sejumlah tujuan: memungkinkan angin sepoi-sepoi untuk memoderasi suhu tropis yang panas. Itu meninggikan tempat tinggal di atas limpasan air hujan dan lumpur, memungkinkan rumah dibangun di atas sungai dan pinggiran lahan basah, itu menjaga orang, barang dan makanan dari kelembaban dan kelembaban, mengangkat tempat tinggal di atas nyamuk pembawa malaria; dan mengurangi risiko busuk kering dan rayap.

Rumah Adat Padang

Atap yang miring tajam memungkinkan hujan tropis yang lebat dengan cepat reda, dan atap besar yang menjorok mencegah air masuk ke dalam rumah dan memberikan keteduhan dalam panas.

Di daerah pesisir dataran rendah yang panas dan lembab, rumah dapat memiliki banyak jendela yang memberikan ventilasi silang yang baik, sedangkan di daerah pedalaman pegunungan yang lebih sejuk, rumah sering kali memiliki atap yang luas dan sedikit jendela.

Beberapa basis rumah adat yang lebih signifikan dan khas di setiap Provinsi di Indoenesia, misalnya:

1. Provinsi Aceh

Rumah adat Aceh disebut “Rumoh Aceh”. Rumah adat tipe rumah panggung dengan 3 bagian utama dan 1 bagian tambahan.

Tiga bagian utama Aceh adalah rumah seuramoë keuë (serambi depan), seuramoë Teungoh (serambi tengah) dan seuramoë likot (serambi belakang). Sedangkan bagian tambahan yaitu rumoh dapu (dapur rumah).

2. Provinsi Sumatera Utara / Batak

Arsitektur rumah tradisional ditemukan dalam berbagai bentuk ragam hias. Secara umum bentuk bangunan rumah adat pada kelompok adat Batak melambangkan “kerbau berdiri”.

Bahkan lebih jelas lagi menghiasi bagian atas atap dengan kepala kerbau. Rumah adat orang Batak, Batak Ruma, berdiri tegak dan megah, dan masih banyak ditemui di Samosir.

Rumah adat Karo Siwaluh Jabu terlihat bagus dan lebih tinggi di bandingkan dengan rumah adat lainnya. Atapnya yang terbuat dari ijuk dan biasanya ditambah dengan atap segitiga yang lebih kecil disebut ayo-ayo rumah dan tersek.

Dengan lapisan atap yang menjulang tinggi rumah Karo memiliki bentuk yang khas dibandingkan dengan rumah adat lain yang hanya memiliki satu lapis atap di Sumatera Utara.

Batak Toba Bolon Bentuk rumah adat di daerah Simalungun cukup menarik. Kompleks rumah adat di Desa Purba Causeway terdiri dari beberapa bangunan yaitu “Rumah Bolon”, Balai Bolon, Balai Jemur, Balai Pantang Butuh, dan Lesung.

Pulau Nias: “Omo Niha”, Bentuk dan tata letak rumah type dan type Gomo Moro. Rumah dengan tipe Moro, diagram bentuk bulat telur.

Sedangkan rumah tipe Gomo, skematiknya hampir bujur sangkar, tetapi mengandung garis-garis lengkung. Konstruksi rumah Nias terbuat dari kayu keras dan kokoh.

Tiangnya tinggi, sehingga orang bisa masuk ke kolong rumah. Bentuk rumah kepala adat, atapnya dominan dibandingkan rumah lainnya.

3. Provinsi Sumatera Barat / Padang

Rumah adat Sumatera Barat khususnya dari suku Minangkabau disebut “Rumah Gadang”. Biasanya dibangun di atas sebidang tanah milik keluarga induk dalam suku / masyarakat secara turun-temurun.

Tidak jauh dari kompleks rumah gadang biasanya juga dibangun masjid yang berfungsi sebagai tempat peribadahan dan tempat tinggal para lelaki dewasa namun belum menikah.

Rumah Gadang dibuat persegi panjang dan dibagi menjadi dua bagian depan dan belakang, umumnya terbuat dari kayu, dan sepintas terlihat seperti rumah panggung dengan bentuk atap yang khas, menonjol seperti tanduk kerbau, masyarakat setempat dan dulu disebut Atap gonjong terbuat dari ijuk sebelum dialihkan dengan atap seng.

Rumah Bagonjong terinspirasi dari legenda masyarakat setempat, yang menceritakan kedatangan nenek moyang mereka dengan perahu dari laut. Ciri khas lain dari rumah adat ini adalah tidak memakai paku besi melainkan menggunakan pasak kayu, namun cukup kuat sebagai pengikat.

4. Provinsi Riau

Rumah Adat: Rumah melayu selaso jatuh kembar (Rumah Lancang)

5. Provinsi Kepulauan Riau

Rumah Adat: Rumah Selaso Jatuh Kembar (Rumah Belah Bubung)

6. Provinsi Jambi

Rumah Adat: Rumah Panjang

7. Provinsi Sumatera Selatan / Palembang

Rumah itu berupa panggung kayu. Dari segi arsitektur, rumah kayu disebut Rumah Limas / Rumah Limas karena bentuk atapnya yang limas.

Sifat inheren Sumatera Selatan dengan air tawar, baik itu lahan basah maupun sungai, masyarakat membangun rumah panggung. Di tepi Sungai Musi yang berada di tepian limas ini masih terdapat rumah yang menghadap ke pintu masuk sungai.

Ada dua jenis rumah limas di Sumatera Selatan, rumah limas dibangun dengan lantai dengan ketinggian berbeda dan sejajar. Rumah limas yang tingkat lantainya sering disebut rumah jamban.

Piramida bangunan rumah menggunakan kayu unglen atau merbau tahan air. Dindingnya terbuat dari papan kayu yang disusun tegak. Untuk sampai rumah limas terbuat dari dua buah teras kayu dari kiri dan kanan.

Bagian teras rumah biasanya dikelilingi pagar kayu palang yang disebut tenggalung. Makna filosofis di balik pagar kayu yaitu untuk menahan agar anak perempuan tidak keluar rumah.

Bagian dinding ruangan dihiasi ukiran motif floral yang dicat dengan warna emas. Tak jarang, sang pemilik menggunakan timah dan ukiran emas serta lampu gantung antik sebagai aksesori.

Warna cat kuning keemasan yang dipertahankan sebagai ciri khas Palembang. Selain ukiran kayu, dekorasi lemari berukir di sepanjang dinding menjadi penegasan ruang tamu.